Jawa Timur menyimpan warisan peradaban kuno yang tak ternilai, tersembunyi di balik hiruk pikuk modernitas. Di masa Kerajaan Majapahit dan Singasari, wilayah ini menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan, meninggalkan puluhan situs candi yang kaya akan nilai sejarah dan arsitektur unik. Sayangnya, banyak dari candi-candi tersebut masih belum tereksplorasi secara maksimal oleh wisatawan domestik maupun mancanegara, menjadikannya ‘mutiara’ yang tersembunyi. Eksplorasi situs-situs ini secara serius dapat membuka Potensi Wisata Budaya baru yang tidak hanya meningkatkan perekonomian lokal, tetapi juga memperkaya narasi sejarah nasional.
Berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah yang didominasi corak Mataram kuno, candi-candi di Jawa Timur memiliki ciri khas arsitektur yang lebih ramping, artistik, dan cenderung menggunakan material batu bata merah. Ambil contoh Candi Jawi di Pasuruan. Candi ini unik karena memadukan unsur Hindu dan Buddha dalam satu kompleks, dibangun pada akhir abad ke-13 sebagai tempat pendharmaan Raja Kertanagara. Data dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur menunjukkan bahwa pada tahun 2024, Candi Jawi hanya dikunjungi rata-rata 500 wisatawan per bulan, angka yang jauh tertinggal dari destinasi serupa di provinsi tetangga. Padahal, kisah sejarah yang melatarbelakangi candi ini sangat menarik dan memiliki Potensi Wisata Budaya yang kuat jika dikemas dengan narasi yang lebih baik.
Selain Candi Jawi, terdapat Candi Penataran di Blitar, yang merupakan kompleks candi terluas peninggalan Majapahit, dibangun dalam kurun waktu lebih dari 200 tahun. Candi ini menyimpan relief-relief naratif yang mendetail tentang kisah mitologi dan kehidupan rakyat kala itu. Untuk meningkatkan kunjungan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah menetapkan program revitalisasi situs dan pelatihan pemandu wisata bersertifikat sejak Januari 2025. Program ini menargetkan peningkatan jumlah pemandu hingga 30% pada akhir tahun untuk menyambut wisatawan yang tertarik pada Potensi Wisata Budaya sejarah.
Kendala utama dalam memaksimalkan potensi ini adalah aksesibilitas dan infrastruktur pendukung. Banyak candi peninggalan Singasari, seperti Candi Sumberawan, terletak di lokasi terpencil dengan kondisi jalan yang masih kurang memadai. Selain itu, diperlukan sinergi yang lebih erat antara pemerintah pusat, daerah, dan komunitas lokal. Penjagaan keamanan situs juga menjadi prioritas. Pada 15 Juli 2025, Satuan Khusus Polisi Pariwisata di bawah Polda Jawa Timur telah menambah personel pengamanan di area Candi Singosari, Malang, setelah adanya laporan vandalisme minor.
Dengan narasi yang diperkuat, dukungan infrastruktur, dan pelibatan masyarakat setempat, candi-candi di Jawa Timur tidak hanya menjadi objek konservasi, tetapi dapat bertransformasi menjadi cultural hub dan sumber pendapatan berkelanjutan. Membuka Potensi Wisata Budaya ini berarti menghidupkan kembali jejak-jejak sejarah yang terpendam, menjadikannya warisan yang dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.
